MAKANYA, IKUT PEMBEKALAN!
Hal pertama yang muncul di kepalaku saat p... View More
MAKANYA, IKUT PEMBEKALAN!
Hal pertama yang muncul di kepalaku saat pertama kali nyobain makanan Thailand adalah, asem, kecut. Kenapa makanan disini kebanyakan asem gini? jadi curiga kan aku, jangan jangaaan...
Hari ini aku udah nyampe di Thailand, tepatnya di Provinsi Pattani. Jadi kami di ungsikan dulu di tempat orang sini (orang Thailand) untuk menginap semalam, karena besok pagi akan ada acara penyambutan gitu, ya sekalian penempatan mahasiswa di sekolahnya masing-masing. Kami di bagi menjadi beberapa kelompok, per kelompok sekitar 10-15 orang untuk nginep dirumah orang sini. Aku bersama dengan para cowok dari kampus lain di suruh untuk naik mobil Ford Ranger dengan bak belakang yang terbuka (brondol) itu.
Sekedar informasi, mobil tipe-tipe seperti ini sangat banyak digunakan di Thailand. Selain tergolong mobil yang lumayan lah bisa buat gaya, bisa banget lah buat jalan-jalan, tapi bisa juga buat angkut barang. Apalagi buat ngangkut orang, bisa banget. Disini kayaknya peraturan lalu lintasnya memperbolehkan ngangkut orang di bak terbuka deh, buktinya kami disuruh naik di belakang, dan gak disuruh pakai helm. Kalo di Indonesia yaa musti nyiapin gocap tuh per orang.
Akhirnya, sekitar pukul 9 malam, kami sampai dirumah yang akan kami tumpangi. Ternyata, ini adalah rumah kepala sekolah yang akan ditempati oleh salah satu mahasiswa juga, tapi kami masih belum tau siapa yang akan tinggal disini nantinya.
Well, rumah yang kami tempati ini bentuknya hampir sama dengan rumah-rumah di jawa pada umumnya. Tapi, ada sesuatu yang beda banget di depan rumah ini. Ada sekitar 5 rumah panggung kecil mirip rumah adat minang, yang bawah rumahnya bisa dibuat main petak umpet itu loh, ada kolongnya. Karena penasaran, akupun bertanya.
"Mmm... anu, rumah-rumah di depan itu buat apa ya?" tanyaku kepada Babo. Aku gak tau maknanya apa, cuman kepala sekolah disini banyak yang di panggil "Babo". Aku cuma ikut-ikutan aja.
"Oh.. tu berek," jelasnya.
"Berak? Toilet? Kok banyak banget?" Tanyaku lagi, penasaran.
Buat toilet kok banyak-banyak. Dua aja udah cukup deh. Satu cowok, satunya cewek, jadilah keluarga bahagia. Dua anak cukup.
"Buke buak berok, tapi berek. Bilik buak tidur budok-budok," kata seorang pemuda di sebelah Babo dengan bahasa yang gak aku fahami.
"Ha?" aku bengong.
"Itu kamar buat tidur murid, GITU!!! makanya pembekalan itu berangkat!" Kata Usman, temenku satu kampus.
"Iya iya..." kataku, sebel. Masih aja diungkit.
"Oh, mari... makan, makan!" Babo mempersilahkan kami menyantap hidangan yang sudah tersedia. "Lepas makan nak tidur boleh ambil selimut disana, esok pukul tujuh setengoh kito gi." Lanjut Babo sambil menunjukkan letak selimut beserta bantalnya.
Kamipun menyantap hidangan yang sudah tersedia. Aku mengambil nasi, dan lauknya ikan keli (ikan lele). "Oh, ada sambel tuh," pikirku sambil mengambil sambal, banyak banget, karena aku emang suka makan pedas. Sudah jadi kebiasaan kalau udah ambil sambel, langsung aku urap (apasih bahasa Indonesianya? itulah pokoknya) semuanya sama nasi. So, nasipun berubah merah. Dengan sangat semangat aku makan, lupa berdoa. Aku terdiam, berhenti menguyah, pengen muntah. "Wad da ffff!!!!" kataku dalam hati. Ini sambel apaan? kecut! Njirr.. Mana ngambil nasi banyak banget, makannya gimana? nelen yang ini aja gak yakin aku.
"Ah sumuk ya... makan diluar ah!" kataku dengan nada tinggi, berharap semuanya mendengarkan ucapanku itu. Padahal tepat disampingku ada kipas angin. Bodo amat, aku harus keluar, dan cari tempat sampah. Okay, mission completed, walaupun akhirnya kelaparan juga.
......
"Udah jam tujuh tuh, gak mandi?" Usman membuyarkan lamunanku.
"Haah... ngantuknyee... dimana mandinya?" Nyawaku belum terisi sepenuhnya.
"Ke belakang aja ntar juga ketemu, anak-anak juga lagi pada mandi." Jawab Usman sembari mengambil hapenya yang masih nancep charger, berharap ada sesuatu yang beda di layar hapenya. Padahal juga gak bakal ada notifikasi apapun, orang gak ada sinyal. Kebiasaan anak zaman now dikit-dikit ngecek hape.
Kuraih handuk kecilku yg bermotif panda itu, lalu kugantungkan di kepala. Aku berjalan dengan malas, ngantuk. Walaupun sudah pukul tujuh pagi, tapi matahari belum tampak sempurna. Sampai di tempat mandi, aku shock.
"Hey hey kok pada mandi diluar? Takut telat? Masih pagi! Santai..." Kataku heran dengan ulah anak-anak ini, masak pada mandi di luar. Jadi, ada bak air seperti di musholla atau masjid gitu kan? nah mereka pada mandi aja disitu. Malu-maluin aja, ini di luar negeri! Wait!!! jangan ngeres dulu, mereka masih pake celana, ada yang pake sarung juga.
"Lho... emang mandinya kan disini," jawab salah seorang dari mereka, tampak gembira.
"Hah? itu kan ada tempat yang tertutup." Aku protes.
"Itu tandas (toilet). tempat buang hajat, bukan buat mandi." Jawabnya sambil melanjutkan mandi massal di area terbuka itu.
"Iyakah?" Tanyaku penasaran sekaligus tidak percaya.
"MAKANYA PEMBEKALAN ITU BERANGKAT!!!" Usman teriak kenceng banget dari kejauhan.
"Hahh... kena lagi kan... diem aja lah," pikirku.
Jadi, ternyata... emang beneran disitu mandinya. Katanya toilet ya buat hajat, kalo mandi ya jangan di toilet. Aku jadi mikir, kalo cewek mandinya gini juga gak ya? Perlu di teliti lebih mendalam deh ini. Well, setelah aktifitas mandi outdoor yang merepotkan karena harus cari plastik kresek untuk bungkus celana yang basah, kita semua udah siap untuk berpisah. Ya, hari ini kita akan di tempatkan di sekolah masing-masing.
Acara pelepasan di buka dengan lagu kebangsaan Thailand, dan setelah itu dilanjutkan dengan lagu kebanggaan kita, Indonesia Raya. Oke, ini baru pertama kalinya aku merasakan sensasi seperti ini. Entah kenapa, aku begitu hikmat saat menyanyikan lagu ini. Apalagi saat mendengar suara genderang dalam lagu Indonesia Raya, bulu kudukku di buat berdiri olehnya. Ya, mungkin dulu waktu masih di Indonesia, karena terbiasa mendengar lagu itu, jadi biasa aja. Kita gak akan sadar bahwa sesuatu yang sangat berharga itu sebenarnya berada di dekat kita, mungkin kita selalu menganggapnya biasa saja selama ini. Tapi, saat sesuatu itu jauh, kita baru akan sadar betapa berharganya sesuatu itu bagi kita.
Kenapa jadi melow gini? Udah! udah! Waktunya makan. Kali ini, harus hati-hati. Ini akan jadi hari yang panjang, jangan sampe salah makan. Kayaknya, orang Thailand kalau masalah makanan itu gak tanggung-tanggung. Tadi malam di tempatnya kepala sekolah itu kami di suguhi makanan dengan berbagai macam lauk pauk. Sekarang pun demikian, satu meja penuh dengan lauk. Karena tadi malam udah kejebak, sekarang aku ambil lauk dikit-dikit. Sekalian nyobain dan mengingat rasanya.
-----
Gak terasa acara pelepasan pun mencapai puncaknya, saatnya pembagian nomor. Jadi, kami para mahasiswa akan dibagikan sebuah name pack yang sudah tertera nomor unik di dalamnya, tinggal ketik REG nomor unik kamu dan kirim ke 9978. Oke, udah gak zaman begituan, sms mahal, pakai WA aja. Kembali ke jalan yang benar. Jadi, bukan mahasiswa aja yang dikasih nomor unik, tapi para Kepsek (Kepala Sekolah) Thailand itu juga dapet. So, ruangan yang tadinya rapi berubah berantakan seketika karena antara mahasiswa dan Kepsek pada nyocokin nomor. Kenapa jadi kayak gini? harusnya tinggal manggil nama aja kan gampang.
"Kepala Sekolah Ngaikarnsuksa?" Aku menemukan nomor yang cocok dengan nomorku.
"Anaaam.. hih, aku temenmu!" Kata seorang cewek yang punya nomor sama denganku.
"Lho...? Kok nomornya sama?" Tanyaku lagi.
"Iya emang kita satu sekolahan!" jawabnya sebel. "Makanya pembekalan itu berangkat!" lanjutnya.
"Kalian sekongkol ya buat kata-kata itu?" Aku ikutan sebel.
"Ya kamu sih... Ini dimana Kepsek kita udah setengah jam loh belum ketemu. Ntar gak dateng aja." Katanya, khawatir.
"Mmm... kita keluar aja, berdiri di deket pintu keluar. Kalo Kepsek kita udah capek nyari pasti kan keluar tuh, nah ntar ketemu disana, gimana?" Aku ngasih saran.
"Kamu ini ya... selalu cari mudahnya! Yaudah, ayok!" Dia ngomel-ngomel, tapi setuju. Maunya apa sih?
Akhirnya kami putuskan untuk menunggu di pintu keluar. Capek juga maen cari-cari nomor unik. Saat lagi mau cari posisi yang strategis untuk mengamati nomor-nomor yang nanti akan lewat di pintu keluar, kami di hampiri oleh tiga orang tak dikenal, dua bapak-bapak, dan satu ibuk-ibuk, maksudnya satu ibuk, eh gimana sih yang bener? intinya yang satu itu cewek yang udah agak tua dan udah pantes jadi ibuk-ibuk, gitulah.
"Ngaikarnsuksa?" Tanya yang cewek, ya ibuk-ibuk.
"Iya." Jawab kami serentak.
"Oh... Nama gapo?" Tanya ibuk-ibuk itu lagi. Aku gak gitu paham.
"Najwa," kata temenku, senyum.
"Demo?" tanya ibuk-ibuk itu lagi, kali ini menunjuk kearahku.
"Hah?" Aku bingung. Kenapa baru sampe sini aku diajakin demo? Emang wajahku kelihatan suka ikutan demo? Tapi kalo ada nasi kotaknya bisa dipertimbangkan sih, ups... jangan dilanjut..
"Maaf, saya tak bisa ikut!" Jawabku, maksain nyoba pakai logat melayu.
"Lho... tak ikut macam mano? Nak kelik Indo selalu?" Tanya dia lagi, dan aku gak paham maksudnya apaan.
Di daerah Thailand yang ini, bahasa yang digunakan adalah melayu, ya aku tau dari berangkat pembekalan yang telat itu. Tapi melayunya gak bisa dicerna nih oleh otakku. Iya kalo melayu kayak Upin Ipin aku paham, it's totally different. Banyak banget vocab yang asing banget di telingaku, dan kenapa mereka cenderung pakai akhiran "O" bukan "E"? Setahuku saat nonton Upin Ipin itu banyak pakai akhiran "e" kayak "seronoknye, sedapnye, kampanye..." Oke, abaikan yang terakhir.
"Maaf, saya tak faham, kurang pandai cakap melayu," kataku, menjelaskan. "Tapi, intinya saya tak bisa ikut demo, karena ini pun sudah gelap, mohon maaf!" lanjutku.
"Macam mana?" Mama bingung.
"Hey, kamu gimana sih? Udah ketemu malah gak mau ikut?" Najwa marah-marah.
"Ya masak baru dateng diajakin demo, udah malem juga loh ini!" Jelasku.
"Astaghfirullahal 'adziiim.... Jadi ini cuma gara-gara kata demo?" Tanya Najwa, ekspresi wajahnya makin serem.
"Cuma? Demo Najwa! Malem-malem. Kamu bilang cuma?" Aku ikutan kebawa emosi.
Ketiga orang itu hanya diam, tak mau mengganggu perkelahian antara dua remaja ini.
"Heh.. bentar bentar! Demo artinya apaan coba?" Tanya Najwa lagi
"Demo ya demo itu kan teriak-teriak di jalan, nulis kata2 di kertas!" Aku menjelaskan.
"Dengerin ya, DENGERIN! Demo itu bahasa melayu sini, artinya kamu. Mama itu tadi nanyain nama kamu siapa? Malah ngomong ngalor ngidul gak jelas. Makanya pembekalan itu berangkat!"
"Oh... jadi..." Aku jadi salah tingkah.
"Namo gapo ni?" Tanya Mama lagi sambil nepuk pundakku.
"Oh iya iya saya ikut demo," jawabku, spontan!
"Dia tanya nama..." Najwa greget-greget.
"Nama saya Demo! Eh Anam.. Anam.. nama Anam, iya Anam..."
Emang pembekalan itu penting ternyata.
Bersambung...
anam irvani
Chief