Tribe ini khusus untuk kamu yang SERIUS pengen perjuangin mimpimu ke Thailand. Kita akan bahas semua tentang gimana caranya biar kamu suatu saat bisa sampai Thailand. Entah itu pengen sekedar jalan-jalan, atau pengen sekolah disana, kerja disana, kuliah, bahkan pengen nyari jodoh disana, kita akan diskusiin bareng-bareng disini.

see more
Public
Education
1115
anam irvani
9 May, 18:17
NYEMPIL DI NEGERI GAJAH PUTIH - EPISODE 9
MAKANYA, IKUT PEMBEKALAN!

Hal pertama yang muncul di kepalaku saat p... View More
NYEMPIL DI NEGERI GAJAH PUTIH - EPISODE 9
MAKANYA, IKUT PEMBEKALAN!

Hal pertama yang muncul di kepalaku saat pertama kali nyobain makanan Thailand adalah, asem, kecut. Kenapa makanan disini kebanyakan asem gini? jadi curiga kan aku, jangan jangaaan...

Hari ini aku udah nyampe di Thailand, tepatnya di Provinsi Pattani. Jadi kami di ungsikan dulu di tempat orang sini (orang Thailand) untuk menginap semalam, karena besok pagi akan ada acara penyambutan gitu, ya sekalian penempatan mahasiswa di sekolahnya masing-masing. Kami di bagi menjadi beberapa kelompok, per kelompok sekitar 10-15 orang untuk nginep dirumah orang sini. Aku bersama dengan para cowok dari kampus lain di suruh untuk naik mobil Ford Ranger dengan bak belakang yang terbuka (brondol) itu.

Sekedar informasi, mobil tipe-tipe seperti ini sangat banyak digunakan di Thailand. Selain tergolong mobil yang lumayan lah bisa buat gaya, bisa banget lah buat jalan-jalan, tapi bisa juga buat angkut barang. Apalagi buat ngangkut orang, bisa banget. Disini kayaknya peraturan lalu lintasnya memperbolehkan ngangkut orang di bak terbuka deh, buktinya kami disuruh naik di belakang, dan gak disuruh pakai helm. Kalo di Indonesia yaa musti nyiapin gocap tuh per orang.

Akhirnya, sekitar pukul 9 malam, kami sampai dirumah yang akan kami tumpangi. Ternyata, ini adalah rumah kepala sekolah yang  akan ditempati oleh salah satu mahasiswa juga, tapi kami masih belum tau siapa yang akan tinggal disini nantinya.

Well, rumah yang kami tempati ini bentuknya hampir sama dengan rumah-rumah di jawa pada umumnya. Tapi, ada sesuatu yang beda banget di depan rumah ini. Ada sekitar 5 rumah panggung kecil mirip rumah adat minang, yang bawah rumahnya bisa dibuat main petak umpet itu loh, ada kolongnya. Karena penasaran, akupun bertanya.

"Mmm... anu, rumah-rumah di depan itu buat apa ya?" tanyaku kepada Babo. Aku gak tau maknanya apa, cuman kepala sekolah disini banyak yang di panggil "Babo". Aku cuma ikut-ikutan aja.

"Oh.. tu berek," jelasnya.
"Berak? Toilet? Kok banyak banget?" Tanyaku lagi, penasaran.
Buat toilet kok banyak-banyak. Dua aja udah cukup deh. Satu cowok, satunya cewek, jadilah keluarga bahagia. Dua anak cukup.

"Buke buak berok, tapi berek. Bilik buak tidur budok-budok," kata seorang pemuda di sebelah Babo dengan bahasa yang gak aku fahami.
"Ha?" aku bengong.
"Itu kamar buat tidur murid, GITU!!! makanya pembekalan itu berangkat!" Kata Usman, temenku satu kampus.
"Iya iya..." kataku, sebel. Masih aja diungkit.
"Oh, mari... makan, makan!" Babo mempersilahkan kami menyantap hidangan yang sudah tersedia. "Lepas makan nak tidur boleh ambil selimut disana, esok pukul tujuh setengoh kito gi." Lanjut Babo sambil menunjukkan letak selimut beserta bantalnya.

Kamipun menyantap hidangan yang sudah tersedia. Aku mengambil nasi, dan lauknya ikan keli (ikan lele). "Oh, ada sambel tuh," pikirku sambil mengambil sambal, banyak banget, karena aku emang suka makan pedas. Sudah jadi kebiasaan kalau udah ambil sambel, langsung aku urap (apasih bahasa Indonesianya? itulah pokoknya) semuanya sama nasi. So, nasipun berubah merah. Dengan sangat semangat aku makan, lupa berdoa. Aku terdiam, berhenti menguyah, pengen muntah. "Wad da ffff!!!!" kataku dalam hati. Ini sambel apaan? kecut! Njirr.. Mana ngambil nasi banyak banget, makannya gimana? nelen yang ini aja gak yakin aku.

"Ah sumuk ya... makan diluar ah!" kataku dengan nada tinggi, berharap semuanya mendengarkan ucapanku itu. Padahal tepat disampingku ada kipas angin. Bodo amat, aku harus keluar, dan cari tempat sampah. Okay, mission completed, walaupun akhirnya kelaparan juga.

......

"Udah jam tujuh tuh, gak mandi?" Usman membuyarkan lamunanku.
"Haah... ngantuknyee... dimana mandinya?" Nyawaku belum terisi sepenuhnya.
"Ke belakang aja ntar juga ketemu, anak-anak juga lagi pada mandi." Jawab Usman sembari mengambil hapenya yang masih nancep charger, berharap ada sesuatu yang beda di layar hapenya. Padahal juga gak bakal ada notifikasi apapun, orang gak ada sinyal. Kebiasaan anak zaman now dikit-dikit ngecek hape.

Kuraih handuk kecilku yg bermotif panda itu, lalu kugantungkan di kepala. Aku berjalan dengan malas, ngantuk. Walaupun sudah pukul tujuh pagi, tapi matahari belum tampak sempurna. Sampai di tempat mandi, aku shock.

"Hey hey kok pada mandi diluar? Takut telat? Masih pagi! Santai..." Kataku heran dengan ulah anak-anak ini, masak pada mandi di luar. Jadi, ada bak air seperti di musholla atau masjid gitu kan? nah mereka pada mandi aja disitu. Malu-maluin aja, ini di luar negeri! Wait!!! jangan ngeres dulu, mereka masih pake celana, ada yang pake sarung juga.

"Lho... emang mandinya kan disini," jawab salah seorang dari mereka, tampak gembira.
"Hah? itu kan ada tempat yang tertutup." Aku protes.
"Itu tandas (toilet). tempat buang hajat, bukan buat mandi." Jawabnya sambil melanjutkan mandi massal di area terbuka itu.
"Iyakah?" Tanyaku penasaran sekaligus tidak percaya.
"MAKANYA PEMBEKALAN ITU BERANGKAT!!!" Usman teriak kenceng banget dari kejauhan.
"Hahh... kena lagi kan... diem aja lah," pikirku.

Jadi, ternyata... emang beneran disitu mandinya. Katanya toilet ya buat hajat, kalo mandi ya jangan di toilet. Aku jadi mikir, kalo cewek mandinya gini juga gak ya? Perlu di teliti lebih mendalam deh ini. Well, setelah aktifitas mandi outdoor yang merepotkan karena harus cari plastik kresek untuk bungkus celana yang basah, kita semua udah siap untuk berpisah. Ya, hari ini kita akan di tempatkan di sekolah masing-masing.

Acara pelepasan di buka dengan lagu kebangsaan Thailand, dan setelah itu dilanjutkan dengan lagu kebanggaan kita, Indonesia Raya. Oke, ini baru pertama kalinya aku merasakan sensasi seperti ini. Entah kenapa, aku begitu hikmat saat menyanyikan lagu ini. Apalagi saat mendengar suara genderang dalam lagu Indonesia Raya, bulu kudukku di buat berdiri olehnya. Ya, mungkin dulu waktu masih di Indonesia, karena terbiasa mendengar lagu itu, jadi biasa aja. Kita gak akan sadar bahwa sesuatu yang sangat berharga itu sebenarnya berada di dekat kita, mungkin kita selalu menganggapnya biasa saja selama ini. Tapi, saat sesuatu itu jauh, kita baru akan sadar betapa berharganya sesuatu itu bagi kita.

Kenapa jadi melow gini? Udah! udah! Waktunya makan. Kali ini, harus hati-hati. Ini akan jadi hari yang panjang, jangan sampe salah makan. Kayaknya, orang Thailand kalau masalah makanan itu gak tanggung-tanggung. Tadi malam di tempatnya kepala sekolah itu kami di suguhi makanan dengan berbagai macam lauk pauk. Sekarang pun demikian, satu meja penuh dengan lauk. Karena tadi malam udah kejebak, sekarang aku ambil lauk dikit-dikit. Sekalian nyobain dan mengingat rasanya.

-----

Gak terasa acara pelepasan pun mencapai puncaknya, saatnya pembagian nomor. Jadi, kami para mahasiswa akan dibagikan sebuah name pack yang sudah tertera nomor unik di dalamnya, tinggal ketik REG nomor unik kamu dan kirim ke 9978. Oke, udah gak zaman begituan, sms mahal, pakai WA aja. Kembali ke jalan yang benar. Jadi, bukan mahasiswa aja yang dikasih nomor unik, tapi para Kepsek (Kepala Sekolah) Thailand itu juga dapet. So, ruangan yang tadinya rapi berubah berantakan seketika karena antara mahasiswa dan Kepsek pada nyocokin nomor. Kenapa jadi kayak gini? harusnya tinggal manggil nama aja kan gampang.

"Kepala Sekolah Ngaikarnsuksa?" Aku menemukan nomor yang cocok dengan nomorku.
"Anaaam.. hih, aku temenmu!" Kata seorang cewek yang punya nomor sama denganku.
"Lho...? Kok nomornya sama?" Tanyaku lagi.
"Iya emang kita satu sekolahan!" jawabnya sebel. "Makanya pembekalan itu berangkat!" lanjutnya.
"Kalian sekongkol ya buat kata-kata itu?" Aku ikutan sebel.
"Ya kamu sih... Ini dimana Kepsek kita udah setengah jam loh belum ketemu. Ntar gak dateng aja." Katanya, khawatir.
"Mmm... kita keluar aja, berdiri di deket pintu keluar. Kalo Kepsek kita udah capek nyari pasti kan keluar tuh, nah ntar ketemu disana, gimana?" Aku ngasih saran.
"Kamu ini ya... selalu cari mudahnya! Yaudah, ayok!" Dia ngomel-ngomel, tapi setuju. Maunya apa sih?

Akhirnya kami putuskan untuk menunggu di pintu keluar. Capek juga maen cari-cari nomor unik. Saat lagi mau cari posisi yang strategis untuk mengamati nomor-nomor yang nanti akan lewat di pintu keluar, kami di hampiri oleh tiga orang tak dikenal, dua bapak-bapak, dan satu ibuk-ibuk, maksudnya satu ibuk, eh gimana sih yang bener? intinya yang satu itu cewek yang udah agak tua dan udah pantes jadi ibuk-ibuk, gitulah.

"Ngaikarnsuksa?" Tanya yang cewek, ya ibuk-ibuk.
"Iya." Jawab kami serentak.
"Oh... Nama gapo?" Tanya ibuk-ibuk itu lagi. Aku gak gitu paham.
"Najwa," kata temenku, senyum.
"Demo?" tanya ibuk-ibuk itu lagi, kali ini menunjuk kearahku.
"Hah?" Aku bingung. Kenapa baru sampe sini aku diajakin demo? Emang wajahku kelihatan suka ikutan demo? Tapi kalo ada nasi kotaknya bisa dipertimbangkan sih, ups... jangan dilanjut..
"Maaf, saya tak bisa ikut!" Jawabku, maksain nyoba pakai logat melayu.
"Lho... tak ikut macam mano? Nak kelik Indo selalu?" Tanya dia lagi, dan aku gak paham maksudnya apaan.

Di daerah Thailand yang ini, bahasa yang digunakan adalah melayu, ya aku tau dari berangkat pembekalan yang telat itu. Tapi melayunya gak bisa dicerna nih oleh otakku. Iya kalo melayu kayak Upin Ipin aku paham, it's totally different. Banyak banget vocab yang asing banget di telingaku, dan kenapa mereka cenderung pakai akhiran "O" bukan "E"? Setahuku saat nonton Upin Ipin itu banyak pakai akhiran "e" kayak "seronoknye, sedapnye, kampanye..." Oke, abaikan yang terakhir.

"Maaf, saya tak faham, kurang pandai cakap melayu," kataku, menjelaskan. "Tapi, intinya saya tak bisa ikut demo, karena ini pun sudah gelap, mohon maaf!" lanjutku.
"Macam mana?" Mama bingung.
"Hey, kamu gimana sih? Udah ketemu malah gak mau ikut?" Najwa marah-marah.
"Ya masak baru dateng diajakin demo, udah malem juga loh ini!" Jelasku.
"Astaghfirullahal 'adziiim.... Jadi ini cuma gara-gara kata demo?" Tanya Najwa, ekspresi wajahnya makin serem.
"Cuma? Demo Najwa! Malem-malem. Kamu bilang cuma?" Aku ikutan kebawa emosi.

Ketiga orang itu hanya diam, tak mau mengganggu perkelahian antara dua remaja ini.

"Heh.. bentar bentar! Demo artinya apaan coba?" Tanya Najwa lagi
"Demo ya demo itu kan teriak-teriak di jalan, nulis kata2 di kertas!" Aku menjelaskan.
"Dengerin ya, DENGERIN! Demo itu bahasa melayu sini, artinya kamu. Mama itu tadi nanyain nama kamu siapa? Malah ngomong ngalor ngidul gak jelas. Makanya pembekalan itu berangkat!"
"Oh... jadi..." Aku jadi salah tingkah.
"Namo gapo ni?" Tanya Mama lagi sambil nepuk pundakku.
"Oh iya iya saya ikut demo," jawabku, spontan!
"Dia tanya nama..." Najwa greget-greget.
"Nama saya Demo! Eh Anam.. Anam.. nama Anam, iya Anam..."

Emang pembekalan itu penting ternyata.


Bersambung...
9
Comment
1
anam irvani
8 May, 14:04
NYEMPIL DI NEGERI GAJAH PUTIH - EPISODE 8
DASAR NDESO!!

Tak terasa, hari pemberangkatan sudah di depan mata. B... View More
NYEMPIL DI NEGERI GAJAH PUTIH - EPISODE 8
DASAR NDESO!!

Tak terasa, hari pemberangkatan sudah di depan mata. Besok pagi, kami para mahasiswa ini akan beralih profesi menjadi TKI di negara yang terkenal dengan gajah putihnya itu. Karena ini adalah pengalaman pertamaku ke luar negeri, jadi malam ini aku harus mempersiapkan segala sesuatunya secara matang.
"Mmm... bawa apa lagi ya?" aku bertanya pada diri sendiri.
"Baju udah, celana udah, celana dalam cukup lah, helm udah." (Mikir) "Loh ehh, ini ngapain helm ikutan masuk tas? Udah kamu dirumah aja, tenang aja disana gak ada rompi ijo kok, pukpuk." Ngomong sama helm.

......

Hari pemberangkatan pun tiba. Dengan bekal seadanya, akupun berangkat ke kampus dengan ciri khas mata ngantuk karena tadi malam begadang sampai jam 3 pagi. Kata orang, mataku itu sipit. Mata sipit, yang lagi ngantuk? Udah gak usah di bayangin. Tapi, aku tidak pernah percaya akan hal itu. Saat aku bercermin, aku selalu memandang cermin (yaiyalah), maksudnya memandang mataku yang "katanya" sipit itu. Sesekali aku mencoba untuk melotot, ternyata gak ada bedanya. But, I never believed that my eyes is sipit. Karena setiap kali aku naik motor, aku selalu kelilipan. Dan parahnya, aku kelilipan rambutku sendiri. Teorinya, orang sipit itu aman dari kelilipan. Kalaupun masih kelilipan, berarti tingkat ke-sipit-an-nya masih diragukan. Setidaknya, teori itu bisa jadi alasan kuat kalo mataku gak sesipit yang kalian bayangkan.

"Eh itu Anam kan?" Terdengar suara samar di telingaku .
"Iya, anak itu niat gak sih sebenernya?" Balas seseorang yang lain.
"Tau tuh, pembekalan gak pernah berangkat. Lihat tuh, masak cuma bawa ransel sama tas tenteng, dikira mau tamasya?" sahut seseorang yang lain lagi.
"Iya, mana sipit lagi!" kata seorang cewek berkacamata yang duduk di tengah-tengah, gak nyambung.
Semua anggota gosip melihat kearah cewek berkacamata.
"Kenapa?" tanya cewek berkaca mata, nengok kanan kiri. "Emang sipit kan? Iya kan?" lanjutnya, tak berdosa.
Tiba-tiba, ada seorang cewek yang nyamperin aku.
"Eh, Anam?" tanya cewek itu.
"Iya?" jawabku, singkat.
"Selly," katanya sambil mengulurkan tangan, memperkenalkan diri.
"Oh iya, Anam," jawabku, meraih tangannya.
"Eniwei, bawaanmu dikit banget?" tanya cewek yang ternyata bernama Selly itu.
"Hehe iya, aku kan dari luar kota, di T.A. barangku ya cuma ini." Jawabku, menjelaskan.
"Tapi kita ini mau ke luar negeri loh! Yakin cuma bawa ini aja?" tanya Selly, ragu.
"Ya... yakin. Disana seminggu juga tujuh hari kan?" tanyaku balik.
"Iya juga ya? kenapa gak kepikiran sampe situ?"
"Emang kamu bawa apa aja?" tanyaku, penasaran.
"Banyak sih, baju buat ngajar, baju buat santai, baju buat jalan, baju tidur, baju buat kondangan." Jelasnya.
"Baju buat kondangan juga?"
"Ya kali aja kan besok dapet undangan nikahan disana? Cewek, Nam, tau sendiri lah," jelas Selly. "Eh udah jam 9, yuk masuk." Lanjutnya, ngajakin masuk ke ruang rektorat.

Kamipun masuk ke dalam ruang utama rektorat, katanya akan ada acara pelepasan gitu. Tapi di dalam ruangan ini tidak ada tanda-tanda akan ada acara apapun. Kursi-kursi lipat yang biasanya dibuat untuk acara itu masih nyender di tembok dengan santainya. Aku pun berinisiatif untuk ngambil satu, capek juga lama-lama berdiri.

Dua jam telah berlalu, namun belum ada tanda-tanda acara akan dimulai. Tiba-tiba ada seorang dosen yang masuk ke dalam ruangan.
"Ayo-ayo berangkat, bisnya udah datang!" Kata dosen itu, tampak terburu-buru.
"Lho gak ada acara pelepasan dulu, pak?" Tanya seorang cowok yang duduk di dekat pintu.
"Gak jadi, ayo cepat berangkat sekarang, kalau kesorean di Surabaya ntar macet!" Jelas pak dosen.

- Juanda International Airport | 18.30

Akhirnya, sampe di juga di Bandara. Niatnya sih berangkat lebih awal biar gak kena macet, tapi sama aja nyampe bandara malem. Padahal T.A. - Surabaya itu paling 3 jam nyampe, lha ini 6 jam baru nyampe. Ada yang sakit perut lah, mabok lah, ada juga yang kopernya ketinggalan. Jadi orangnya udah nyampe, kopernya masih otewe sama abang Gojek.

Nyampe di Bandara aku langsung cari spot buat foto. Maklum lah namanya juga baru pertama kali ini di bandara, jadi ya harus punya foto yang oke buat di pamerin di IG. Ternyata bukan cuma aku aja yang foto-foto, tapi semuanya. Dasar ndeso! Eh aku juga dong? But eniwei, gara-gara momen foto-foto ini, aku jadi lebih kenal dengan teman-teman baruku.

Well, karena udah waktunya terbang. Kami harus menyudahi adegan narsis kali ini. Kami langsung menuju ke boarding lounge, tempat menunggu pesawat tiba. Tak lama kemudian, gerbang menuju ke pintu pesawat di buka. Kami pun bergegas masuk.

"Mbak mbak, sepatunya di pake aja." Kata seorang pramugari pada cewek berkacamata, ya temenku.
"Oh dipake ya? Karpetnya bersih, hehe." Jawabnya, salah tingkah.
Temenku satu ini cantik-cantik tapi agak sedikit lola. Kayaknya perlu dibina. Masak iya masuk pesawat lepas sepatu, dikira masuk mesjid kali ya. Tapi wajar sih ya, emang wong ndeso yang baru pertama kali naik pesawat, kalo tadi aku yang pertama masuk mungkin juga gitu.

"Mmm... 16C, 16C, 16C, eh kamu?" Tanya cewek berkacamata kepadaku.
"Iya?" Tanyaku balik.
"Eh kita jejeran," katanya, riang.
"Oh ya? silahkan" kataku, mempersilahkannya duduk.
"Kamu curang ih! Mentang-mentang dateng duluan duduk di deket jendela." Kata cewek itu.
"Kan urut nomor mbak, aku 16A, jadi ya disini. Mbaknya disitu deket jalan." Kataku, menjelaskan.
"Pokoknya Dinda mau di deket jendela!" Katanya sambil menyilangkan tangannya dan malingin wajahnya, maksa.
"Iya deh iya," jawabku pasrah.

Disaat aku hendak pindah tempat, ada bapak-bapak datang. Ternyata bapak itu satu tempat duduk dengan kami, ya 16B. Jadi, Dinda si cewek berkacamata itu duduk di deket jendela, lalu di tengah ada si bapak-bapak yang baru dateng, dan aku berada di sebelahnya lagi, dekat dengan jalan antara kursi pesawat.

"Lho bapak kok duduk disini?" Tanya Dinda.
Bapak itu melihat boarding pass-nya. "Bener kan 16B?" Tanya bapak-bapak itu.
"Bapak kan datengnya belakangan, harusnya bapak disitu," kata Dinda, menunjuk ke arahku.
"Oke oke oke," jawab bapak-bapak itu sambil berdiri dan mempersilahkanku pindah.
"Maafin temenku ya pak," kataku meminta maaf, sungkan.
"Iya gak apa-apa mas, saya paham kok laki-laki harus ngalah." Jawab bapak itu, pasrah.
"Hehe iya Pak. Ngomong-ngomong bapak turun mana?" Tanyaku, basa-basi.
"Hatyai lah mas, masak mau turun di Malang terus bilang ke kernetnya kiri bang kiri gitu?"
"Iya juga ya pak, hehe"

Sial, salah nanya. Kebiasaan kalo naik bis, suka basa-basi nanyain orang turun mana. Eh sekalinya naik pesawat, langsung ketahuan kalo belom pernah naik pesawat sebelumnya. Naam.. naam... dasar ndeso!

Bersambung...
7
Comments
4
anam irvani
2 May, 17:36
NYEMPIL DI NEGERI GAJAH PUTIH - EPISODE 3
Nekad

Tung tututung tungtung tungtung tung tung... (nada dering iPho... View More
NYEMPIL DI NEGERI GAJAH PUTIH - EPISODE 3
Nekad

Tung tututung tungtung tungtung tung tung... (nada dering iPhone replika)
"Halo..."
"Sibuk gak? Ngopi yuk!"
"Ayuk, dimana?"
"Deket kampus aja."
"Okai, meluncur"

Yang biasa aku dan temen-temen lakuin saat waktu senggang adalah ngopi, sebenernya gak cuma diwaktu senggang aja sih, tapi kalo pengen aja, dan pengennya itu terlalu sering. Kadang kalo lagi nungguin dosen lama banget, pas dosennya udah dateng, ganti kita tinggal ngopi, salah sendiri kelamaan.

N-G-O-P-I, jangan pikir ngopi itu harus minum kopi, karena inti dari ngopi disini adalah pergi ke warung kopi, duduk, numpang ngecharge hp, minta password Wi-Fi, dan pesennya es teh manis. Itu aja cuma segelas, diminum dikit-dikiiiiit, dan nongkrongnya 3 sampe 5 jam lah. Gitu mah biasa. Nggak malu? ahh... biasanya juga malu-maluin kan?

Aku tadi ditelpon temenku, ngajakin ngopi. Aku langsung gass dan sekarang aku sudah sampai di warkop deket kampus. Tapi temenku, belum nyampe, kebiasaan. Bagi yang udah biasa janjian, hal kayak gini pasti sering terjadi, di maklumin aja. Karena otw itu bukan berarti on the way, tapi orangnya tungguin wae, sampe keluar akar tuh kaki yaudah tungguin wae.

"Eh, udah nyampe. Udah lama?" tanya temenku, basi.
"Ah gak lama kok, baru aja, baru mau pulang." Jawabku kesel.
"Sorry men, macet. Tadi ada Raisa prewed ditengah jalan." Katanya, ngeles.
"MASAK? AKU HARUS KESANA!!"
"Tapi yang prewed Raisa Ningsih loh, sama si Supri. Masih mau kesana?"
"Oh iya, tadi maksud dan tujuan kamu ngajak ngopi mau bilang apa?" Aku mendadak amnesia.
"Gini.... Eh bentar, aku pesen kopi dulu ya. Biar enakan gitu ngomongnya." Katanya sambil berlalu ke meja kasir.
"Hahh, Yooo." Jawabku pasrah. Emang temenku satu ini orangnya kayak gitu, suka bikin tensi naik tiba - tiba.

Dia kembali sambil ngomel - ngomel sendiri. "Musti masak air dulu lagi, udah haus juga."
"Ya sabar, aku aja sabar nunggu" kataku agak nyindir.
"Hehe, iya iya. Nih gorengan, mau?" Tanya dia sembari naruh gorengan di meja.
"EBUSYEEET!!! Kenapa ada wajan disini?" Teriakku shock.
"Gorengaan tuh..." jelasnya.
"Iya sih... tapi ya gak wajan juga dooong." Aku protes.

Tiba - tiba ada bapak - bapak nyamperin kami. "Mas, boleh saya ambil gorengannya? Istri saya ngidam pengen gorengan?" Bapak itu memohon.
"Iya bawa aja, Pak. Suruh nelen sekalian tuh gorengan" Kataku, emosi.
"Sabar men, sabar! Tadi nyuruh aku sabar, gimana sih?"
"Ya tapi kan... yaudah lupain. Kamu mau bilang apa tadi?" Tanyaku serius.
"Oh ya, sampai mana tadi?" Dia balik nanya.
"Belum nyampe mana - mana kali," Jawabku makin sebel.
"Oh iya ya... Gini men. Aku lagi galau nih. Kamu kan tau sendiri aku belum bisa KKN, nah cewekku bentar lagi KKN." Jelasnya.
"Alah, gitu aja mah biasa. Paling juga berantem," aku ngeledek.

Perlu diketahui, temenku ini, Bambang, adalah temenku yang sering sekali cekcok sama ceweknya, Susi. Gara-gara berebut makan doang bisa diem-dieman tiga hari tiga malam. Maklum sih ya dengan body yang oversize Bambang ini hobi banget makan. Kalau yang cewek sih gak montok-montok amat. Tapi kalo si Bambang ini lagi makan, dia suka banget ngerecokin cowoknya makan, akhirnya berantem, dah galau tuh. Akhirnya curhat ke aku, dua-duanya lagi, hmm...

Nah sekarang si Susi mau KKN, sedangkan si Bambang belum bisa KKN karena kebanyakan bolos. Gak bisa ngebayangin deh kegalauan apalagi yang bakal dia setorin ke aku. Ngomong-ngomong soal KKN, aku jadi inget kalo belum daftar KKN ke Thailand. Aku ajak dia aja kali ya.

"Eh men, daripada galau, mendingan ikut aku daftar KKN ke Thailand."
"KKN ke Thailand gimana maksudnya?" Tanya dia, bingung.
"Ya KKN di Thailand," aku ngejelasin.
"Emang bisa? KKN di negeri sendiri aja gak bisa, ini ke negeri gajah," sahutnya pesimis.
"Cobain dulu, syaratnya gampang kok, tapi ada tes seleksinya."
"Iya ya, kali aja ya, namanya juga usaha kan ya."
"Nah gitu dong, gini kan aku ada temen daftar, haha"
"Lahdalah ternyata, nyari temen dia."
"Yadong. Gimana? Nih syarat-syaratnya." Rayuku sambil nyodorin kertas pengumuman.
"Oalah kalo cuma gini syaratnya mah lengkap, tapi masalahnya nilaiku jelek banget semester ini." Dia masih ragu
"Emang semester kemaren-kemaren bagus?" Ejekku.
"Enggak juga sih, haha,"
"Udah ayo daftar aja, nilaiku semester ini juga hancur banget. Nekad aja udah. Kalo gak ketrima yaudah. Beres kan." Rayuku lagi.
"Okedeh siap! Ayo kemon!" Katanyanya semangat banget dan langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Sekarang? Kopimu belum jadi kan?" Tanyaku.
"Udah biarin, salah sendiri lama banget," jawabnya cuek.

Semua persyaratan sudah beres, tinggal ngumpulin. Tapi masih ada kegelisahan diantara kami berdua, lebih tepatnya kemaluan, eh, bukan itu maksudnya. Intinya nih, kami tuh malu karena berani-beraninya daftar KKN ke Thailand itu dengan nilai yang bukan lagi pas-pasan, tapi emang buruk banget. Aku semester ini dapet nilai E di tiga mata kuliah, Kalau si Bambang mah emang dari orok nilainya gak pernah bagus. Dengan modal nekat, kami berdua masuk ke ruangan pendaftaran.

"Siang, Pak. Saya mau ngumpulin berkas buat daftar KKN di Thailand, ditaruh mana ya?" Tanyaku ke dosen yang berada disana.
"Taruh di meja saja," Jawab dosen tersebut sambil membelakangi kami, tanpa menoleh sedikitpun.
"Ayo, cepet balik, mumpung dia gak lihat kita, nanti ditanya-tanya malu aku," bisik Bambang.
"Ide bagus, ayo!" aku mengiyakan.

Kami bergegas lari dari ruangan itu sebelum ditanya aneh-aneh. Dengan nafas yang masih terengah-engah, aku duduk di depan ruangan itu.

"Haha, dosen itu pasti syock ya, lihat belakang gak ada orang." Kataku.

Sunyi, gak ada jawaban. "Apa Bambang segitu capeknya ya sampe gak kuat ngomong, lari 2 meter aja K.O." pikirku dalam hati.

Aku menoleh ke belakang, memeriksa keadaan temenku satu ini, kali aja kolaps. Lah dalah ternyata dia nyangkut di pintu ruangan tadi, aku lupa kalo pintu segitu dia gak bisa langsung lari, harus nyamping jalannya, nyangkut deh. Parahnya lagi dosen tadi yang bantuin proses pengeluaran dari ketersangkutan si Bambang. Niat lari malah nyerahin diri.

"Kok bisa nyangkut to mas mas?" Tanya pak dosen.
"Hehe iya, Pak. Lupa miring." Jawab Bambang sekenanya.
"Lain kali di buka penuh pintunya, jangan cuma sebagian," kata pak dosen. "Tadi kayaknya ada dua orang, yang satu mana?" Lanjutnya.
"Itu," jawab Bambang sambil nunjuk kearahku.
"Mampus," kataku dalam hati.
"Sini sini," kata dosen itu sambil melambai kearahku.
"Pada mau Mau daftar KKN Thailand ya?" Tanya dosen itu lagi.
"Iya, Pak," kami mengangguk.
"Syaratnya udah lengkap kan? Berhubung yang daftar udah banyak, langsung tes aja. Yang lain juga sudah pada ngumpul," kata dosen itu sambil mengantar kami ke ruangan tes.

Kami kelabakan bukan main, di pengumuman tertulis kalau tes seleksinya tanggal 16, padahal sekarang baru tanggal 14. Tapi ya mau gimana lagi? Mau tes kapan aja paling kami juga gak belajar. Finally, kami masuk masuk keruangan tes tanpa persiapan apapun.

Tes pertama adalah tes translate teks Indonesia ke Inggris. Buat kami yang jurusan bahasa Inggris, ezy pizy lah yaa. Bukannya sombong nih, tapi kebetulan soalnya sama kayak ujian akhir semester lalu, jadi ya masih hafal banget. Ujian kedua, bahasa Indonesia, kayak ujian nasional anak SMA gitu. Suwer deh, yang kayak gini malah susahnya minta ampun. Lagian kenapa juga ada tes bahasa Indonesia segala? Kita kan mau ke Thailand. But it's okay, I can do my best, sambil noleh kanan kiri.

Lanjut ke ujian ketiga, yaitu ujian baca Al Qur'an. Lha kok? Apa hubungannya? Oke gini, yang ini malah sangat berhubungan, karena di Thailand ternyata kita akan ditempatkan di sekolah-sekolah Islam yang telah bekerja sama dengan kampus. Selain itu disana kita juga akan disuruh ngajar di sekolah-sekolah tersebut. Jadi kalo kita sebagai guru (walaupun masih praktek) gak bisa baca Qur'an ya malu-maluin.

Setelah semua ujian selesai, semua calon-calon TKI disuruh keluar. Aku pikir ujiannya udah selesai, but it isn't over yet guys. Di dalam sana masih ada dua orang dosen, yang satu duduk di ujung barat, yang satu lagi di ujung timur. Dua orang dari kami di panggil namanya, mereka masuk, dan masing-masing duduk di depan dosen. Terlihat dari luar mereka ditanya sesuatu oleh dosen tersebut.

"wawancara kali ya?" Tanya Bambang.
"Iya mungkin." Jawabku, kurang yakin.
"kira-kira ditanya apa ya?" Tanya seorang cewek berjilbab merah ke cewek berjilbab putih.

Belum sempat menjawab, cewek jilbab putih di panggil namanya, dan dua orang yang di panggil pertama sudah keluar. Saat kami tanya pertanyaan apa yang diberikan oleh penguji barusan, mereka cuma senyum-senyum gak jelas, dan bilang, "ntar juga tau sendiri." Satu persatu sudah di panggil namanya, tinggal aku dan Bambang, berdua, karena yang lain udah pada pulang. Mungkin karena kita daftar terakhir jadi dipanggilnya juga terakhir. Akhirnya, dua orang terakhir udah berdiri, aku dan Bambang bersiap masuk sambil menebak kira-kira apa yang akan di tanyakan oleh penguji. Sebenernya yang kami takutin cuma satu pertanyaan, ya, nilai.

"Mmm.. bisa perkenalkan diri dulu?" tanya penguji.
"Iya, Pak. Nama saya Anam, saya dari jurusan Bahasa Inggris..."
"Stop stop!" kata penguji memotong perkataanku. "Jurusan Bahas Inggris kan? Pake Bahasa Inggris dong," lanjutnya.
"Okay, My Name is Anam, I am from English Departement, I am from Kudus, Central Java, and I am okay, thanks." Aku memperkenalkan diri, dengan bahasa Inggris, jelas dan meyakinkan.
"Okay, well... why? mmm... why you? ah pakai bahasa Indonesia aja ya?" Tanya penguji, kesulitan, mungkin.
"Iya, Pak."
"Kenapa kamu mau KKN di Thailand?" Tanya penguji.
"Mmm... karena saya sering nonton film Thailand, Pak. Mungkin takdir saya ada disana," Jawabku, ngaco.
"Sering nonton film Thailand ya? mmm... Berarti bisa dong dikit-dikit bahasa Thailand?" Tanya penguji, menjebak.
"Mampus koe," kataku dalam hati. "Iya bisa lah Pak, dikit-dikit," kataku sok bisa. Padahal aku nonton film thailand cuma beberapa, dan yang aku inget cuma kata "kab kab kab".
"Nah, coba bicara dalam bahasa Thai kalau gitu," pinta Penguji.
"Matihh... piye iki?? mbuh lah, asal ngomong aja, terlanjur basah," kataku dalam hati.
"Bicara pakai bahasa Thai ya, Pak? Oke... mmm... cangkengno kab klambiku kab kulo nakab ramudeng kab rasenggan nakab kapunkaaab."
Penguji cuma bisa bengong denger aku ngomong pake bahasa Thai KW.
"Hebat juga kamu ya? Sering banget berarti kamu nonton film Thailand sampai bisa lancar gitu. Tapi ngomong - ngomong kata terakhir kok kayak pernah denger ya? kata penguji sambil lihat langit - langit." (mikir).
"i-iya, Pak, sering banget," kataku. "Naruto," lanjutku dalam hati.

Bersambung...
12
Comments
2
anam irvani
7 May, 16:15
NYEMPIL DI NEGERI GAJAH PUTIH - EPISODE 7
OH... TERNYATA..

Jika aku daftarin diri di Guinnes World Record, mun... View More
NYEMPIL DI NEGERI GAJAH PUTIH - EPISODE 7
OH... TERNYATA..

Jika aku daftarin diri di Guinnes World Record, mungkin hari ini namaku tercatat di buku paling fenomenal sejagat raya itu. Hari ini aku telah memecahkan rekor baru dalam sejarah (sejarahku sendiri) karena setelah sholat subuh, aku tidak balik tidur, itu pencapain besor loh.

Pagi buta gini aku udah harus siap gass ke TA (singakatan dari Tulungagung). Sebenernya ya males, tapi mau gimana lagi, demi lanjut KKN ke tempatnya Ploy Sornarin, I must do it.
"Heh, ngapain kamu?" Tiba-tiba Icha berada di belakangku.
"Eeeh Icha, udah bangun?" tanyaku balik, salting.
"Eh eh.. nyolong bensin nih anak," katanya, sadar dengan apa yang aku lakukan.
"Sstt... oleh-oleh, Cha. Sepagi ini di gunung gak ada yang jual bensin, hehe." Aku membela diri, sambil lanjut nge-tap bensin dari motor Kiwil.
"Ya ya, ambil aja," kata Icha seolah dia adalah si pemilik motor. "Oya, yakin nih jadi pindahan?" Lanjut Icha, sambil nyender di daun pintu.
"Yakin lah," jawabku simpel.
"Gak pamit sama anak-anak dulu?" Icha lanjut nanya
"Gak ah, masih pada molor juga, kena marah lagi ntar kalo telat."
"Mmm… ya ya paham"
“Yaudah aku cabut dulu, salam buat anak-anak,” kataku sambil mengencangkan tali helm.
“Ya, ati-ati.”
……..

Sampai di kampus aku langsung markirin motor di depan pos satpam, sekalian nitipin kunci motor, daripada ntar diumpetin lagi. Dulu waktu masih aktif kuliah, tiap hari kunci motorku selalu berada di tangan satpam karena aku tinggalin di motor gitu aja, lupa nyabut.

Jadi, di kampusku itu tiap detik ada satpam keliling untuk nyari kunci yang masih nyantol di motor. Kalo nemu, langsung di ambil tuh kunci, tanpa basa-basi. Pernah nih temenku gara-gara telat ujian, dia abis markir motor langsung lari gitu aja. Baru aja lari 3 langkah, dia keinget kunci motornya ketinggalan. Lalu dia noleh ke belakang, eh udah ilang tuh kunci. Itu masih belum seberapa nih, ada juga nih yang lagi nongkrong diatas motor gitu sambil ngerokok, dan kunci motornya masih nempel disitu, diambil juga sama si satpam. Ternyata yang nongkrong diatas motor itu bukan mahasiswa, tapi tukang ojek yang lagi mangkal di depan kampus, diambil juga loh. Kasian abang tukang ojeknya, kan gak bisa narik. Bener-bener gak pandang bulu kalo udah masalah tugas, gak bisa di ganggu gugat. Jadi, saking parnonya, kalo ada satpam lewat, aku dan temen-temen langsung pegang erat-erat tuh kunci, walaupun itu udah berada di dalam saku yang aman, kemungkinan di rebut itu masih ada, tetaplah waspada.

Well, karena sebenernya aku udah agak telat, jadi aku langsung menuju gedung rektorat, tempat dimana pembekalan KKN Thailand dilaksanakan. "Lahhh?" tanyaku dalam hati. Ini kenapa ruangan sepi banget? dan kenapa banyak kursi gini? Kita kan cuma 20 orang. Malah kayak tempat kondangan gini. Katanya pembekalan dimulai pukul 8, dan ini udah hampir setengah Sembilan kok masih sepi gini? “Oke, mungkin mereka telat,” pikirku.

Setelah nunggu sekitar 30 menit, akhirnya ada seseorang yang datang. Tapi, bukannya mahasiswa calon peserta KKN yang datang, malah Pak Jo, dosen Bahasa Inggrisku semester 4 dulu.

“Lho, Anam? Semangat banget udah dateng jam segini?” Tanya Pak Jo, shock.
“Hehe iya Pak, kan jadwalnya pukul 8, ini udah pukul 9. Kok masih belum ada yang datang ya, Pak?” tanyaku balik.
“Haha kata siapa? Masih nanti jam 11 acaranya.” Kata Pak Jo, membuatku bingung. “Ini lihat, jam 11 kan?” lanjutnya sambil nyodorin kertas pengumuman yang di dalamnya ada tulisan gini, “SEMINAR NASIONAL, REVOLUSI BAHASA INGGRIS”.
“Lho, Pak, bukannya tempat ini buat pembekalan KKN ke Thailand ya?” Aku protes.
“Oh kamu mau pembekalan, saya kira mau ikut seminar. Kalo pembekalan saya gak tau dimana, tapi hari ini tempat ini buat seminar,” tandasnya.
“Ya Allah, ternyata… makanya sepi banget, banyak kursi pula, yaudah kalo gitu saya cari tempat lain dulu, Pak. Permisi!” Kataku sambil meraih tas, dan meninggalkan Pak Jo begitu saja.

Pantesan gak ada yang dateng, salah tempat. Biasanya emang disana, bukan biasanya sih, waktu aku ikut pembekalan dulu emang disana. Sekarang aku gak tau pembekalannya dimana, jadi aku cek satu-satu semua tempat di rektorat, dan hasilnya? Aku balik ke lobi, semua tempat sepi.

Saat duduk-duduk di lobi rektorat, aku keinget sesuatu, kenapa gak aku telfon Pak Afik aja, kan aku punya nomornya. Kenapa gak daritadi coba ingetnya?

Pak Afik: “Halo, Anam. Kamu ini gimana sih? sudah jam segini masih belum datang juga?”
Aku: “Maaf, Pak, pembekalannya dimana ya? Saya dari ruang utama rektorat kok malah dibuat seminar ya?”
Pak Afik: “Mmm… Di ruang senat, makanya pembekalan itu jangan sering bolos biar tahu tempat.”
Aku: “Iya Pak, maaf. Tapi saya tadi cek diruang senat kayaknya sepi juga, Pak. Gak ada sepatu di depan pintu sih."
Pak Afik: “Kayaknya? Makanya ngecek yang bener! Karpetnya lagi di cuci, jadi sepatu di pake. Kesini sekarang!”
Aku: “Iy.. iya, Pak.”

Kayaknya bener-bener marah nih dosen sama aku. Oke, stay calm. Harus sabar, gak boleh emosi, karena emang aku sendiri yang cari masalah.

Setelah menata mental, karena sampai sana nanti pasti bakal kena marah habis-habisan, aku siap untuk menuju ruang penyiksaan itu. But wait! Saat aku mau beranjak dari tempat dudukku, ada seseorang yang baru saja lewat di depanku, dan wajahnya gak asing banget. “Pak Afik?” pikirku dalam hati. “Iya, itu Pak Afik,” kataku mantap.
Aku berlari mengejar beliau.

“Pak Pak Pak… huh.. huh.. huh..” teriakku terengah-engah pada Pak Afik yang udah mau masuk mobil.
“Iya? Eh kamu itu kan…” Pak Afik menoleh, berpikir.
“Iya Pak, saya Anam. Maaf ya Pak, saya telat lagi. Oya ini berkas-berkas saya (nyodorin berkas), tapi masih belum semua, kurangnya besok ya, Pak. Sekali lagi maaf.” Kataku, menjelaskan.
“Bentar bentar. Telat lagi? Kita ada janji?” Tanya Pak Afik, bingung, dan aku pun lebih bingung.

Ini bapaknya amnesia atau gimana ya? Belum juga sejam marah-marah di telfon, eh udah lupa. Dikasih berkas juga malah bingung. Masak iya salah orang?
“Jenengan Pak Afik yang ngurus KKN ke Thailand kan, Pak?” Tanyaku, memastikan.
“Iya, benar, saya sendiri.” Jawabnya, masih dangan raut wajah kebingungan.
“Tadi malam kan bapak telfon saya suruh dateng hari ini untuk pembekalan, suruh ngelengkapin berkas juga. Terus barusan juga di telfon bapak nyuruh saya ke ruang senat kan?” Kataku, menjelaskan dengan panjang lebar.
“Kapan saya ngomong gitu? hari ini gak ada pembekalan lho, dan berkasnya masih seminggu kok jadwalnya, tenang saja.” Jelasnya. Malah bikin aku makin pusing.

Hello... belum sejam loh, masih anget, kenapa si bapak berubahnya drastis gini sih? Apa kesambet? Atau jangan-jangan kena retrograde amnesia. Ntar aku santai-santai gak ngumpulin berkasnya sekarang, terus nyampe rumah beliau lihat foto-foto di kamarnya, lihat tato di tubuhnya, dan ada namaku disitu, lalu inget semuanya dan ngejar-ngejar aku sampai ketemu…. WAIT! Emangnya aku Ghajini? Intinya aku harus cari tau apa yang terjadi.

“Bentar, Pak. Jenengan Pak Afik kan?” Tanyaku, memastikan lagi.
“Iyaa, ini ada apa sih?” Jawabnya, jengkel.
“Tadi malam bapak telfon saya kan?” Tanyaku lagi.
“Enggak! Nomormu saja saya gak punya,” jawabnya.
“mmm… (berfikir) Mohon tunggu sebentar ya, Pak!” Pintaku, memohon.
“Iyaaaa,”

Aku langsung mengeluarkan hp ku, dan langsung nelfon nomor beliau. Kali aja kalo hapenya berbunyi, dia akan inget sesuatu.

“Tuuuut…. tuuut….” (nada tunggu panggilan). Wait, ini suara panggilan masuk, tapi gak ada ringtone atau tanda getaran dari hp Pak Afik, eh… diangkat nih! Hmm... ada yang ngerjain aku nih.

“Halo Anam, gimana saya tunggu dari tadi gak ada datang?” kata suara ngebass di telfon.
“Oh maaf Pak, ruangannya sepi, Bapak dimana? Saya samperin! Bapak mau di bawain celurit apa gear sepeda?” tanyaku, emosi.
“Oh mulai berani ya sekarang! Saya coret nama kamu dari list!” Ancamnya.
“Silahkan!” Jawabku, nantang.
“Oke, Anam Suryani, saya coret dari list KKN ke Bangkok!” Ancamnya, lagi.
“Hey, namaku Anam Irvani ya! Suryani Suryani emangnya menteri? Dan KKN nya di Thailand Selatan, gak ada Bangkok!” Bentakku, masih emosi.
“Lho.. ini bukannya Anam Suryani yang mau KKN ke Bangkok, Thailand?” Tanyanya.
“BUKAAAN!!” teriakku sambil menghadapkan speaker hp tepat di depan mulutku.

Tiba-tiba, ada segerombolan orang rame-rame datang. Di tengah-tengah gerombolan itu ada sesosok wajah yang sangat familiar dan sering aku temui minggu-minggu ini.

“Hahahaha…. Lihat wajahnya! Lihat wajahnya! Hahaha!”
“Oh.. jadi ini ulah kalian, hah?” Tanyaku sambil menyingsingkan lengan bajuku.
“Eits eits, gak boleh marah! Kan udah aku kasih bensin tadi pagi,” kata Kiwil yang ternyata adalah biang kerok dibalik semua ini.
Say hi dong di channel yutub baru kami! Gaeeesss, Prank kali ini, PERFECT! Silakan klik like kalo suka video prank kali ini! Jangan lupa subscribe yaaa!” Kata Icha sambil ngerekam.
“Bener-bener ya kalian, an*tiiit*, gila!” Kataku, antara nahan marah dan pengen ketawa.
“Tapi seru kan? Anggep aja kado perpisahan dari kami, haha” Tambah Kiwil.
“Hai…” Tiba-tiba Pak Afik nongol di depan kamera Icha, melambaikan tangan.
“Eh, Bapak ngapain…? CUT CUT CUT!!”
"Saya kan pengen masuk yutub juga"
"GABOLEHHH! CUUUUT!!!"

Bersambung...
6
Comment
0
anam irvani
6 May, 16:33
NYEMPIL DI NEGERI GAJAH PUTIH - EPISODE 6
POSKO KKN ANGKER

Untuk menebus pengkhianatanku, hari ini aku ikut be... View More
NYEMPIL DI NEGERI GAJAH PUTIH - EPISODE 6
POSKO KKN ANGKER

Untuk menebus pengkhianatanku, hari ini aku ikut berangkat ke Nganjuk, tempat KKN lokal dilaksanakan. Sementara di sisi lain kampus, pembekalan KKN Thailand juga sedang berlangsung. "Ahh.. bolos sekali lagi gapapa kali ya?" pikirku. Dari 6 kali pembekalan, aku baru ikut sekali, dan itupun telat. Ya, gimana lagi, kalo masalah telat udah bawaan dari sono kali ya. Lagian nih, pembekalannya aneh, masak mau ke Thailand diajarin bahasa Melayu, kan capek ngomong sambil melayu-melayu (baca: ngomong sambil lari-lari). Ya katanya sih di Thailand selatan itu pake bahasa Melayu, kayak Upin Ipin gitu, "betol betol betol".

Kalo cuma gitu mah santai, tiap hari aku nemenin ponakan nonton tuh dua anak kembar yang sampe sekarang belum lulus-lulus TK. Makanya, skripsi tuh di kerjain, bukan dipikirin, emangnya gebetan kok dipikirin mulu (hubungannya apa?). Intinya disana pake bahasa Melayu, titik. Oke aku paling ya bisa lah, so bolos lagi aja.

Perjalanan ke Nganjuk terbilang cukup ekstrim. Ya namanya juga KKN, pastilah dibuang di tempat terpencil. Kami ditempatkan di desa SAMAAN (cari di google, paling ketemunya baju couple), letaknya di pegunungan. Untuk dapat sampai ke Posko KKN, kami harus mendaki gunung, melewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang. Maaf, itu lagu Ninja Hatori. Yang tau lagu itu, bisa dipastikan anda sudah tua.

Jalan menuju posko sangat ekstrim, terjal, bebatuan segede helm INK berserakan dimana-mana. Dan yang paling ekstrim lagi, saking tingginya tanjakan, jalannya sampai melengkung kaya huruf V kebalik. Namun, karena kami udah sering nonton My Trip My Adventure, kami dapat melalui trek ekstrim itu dengan mulus, karena ada jalan lain menuju ke Posko. Ada jalan yang bagus kok susah-susah lewat jalan yang sulit.

Akhirnya kami sampai di rumah gedong, rumahnya gede banget, cukup gede lah untuk sebuah rumah di gunung. Kalo dilihat sekilas rumah ini mirip kayak villa yang sering dipake di FTV ituloh. Tapi bedanya rumah ini kosong, tidak terawat, dan terkesan angker. Sepertinya pemiliknya udah gak mau ngurus nih rumah.

"Assalamu'alaikum, eh ini yang mau KKN ya?" kata seorang nenek - nenek yang tiba-tiba muncul di belakang kami.
"Waalaikumussalam.. Oh iya nek, ini rumah nenek ya?" tanya Kiwil selaku ketua suku kami.
"Bukan, ini rumah Pak Sunoto. Saya Mbah Sarni, yang disuruh jaga rumah ini. Dulu mau dijual, tapi karena harganya terlalu tinggi tidak ada yang mau beli. Dan semenjak tragedi itu beliau sudah tidak pernah kemari lagi. ya kalian bisa lihat sendiri, berantakan, kotor." Jelas si mbah yang ternyata bernama Sarni itu.
"Tragedi? tragedi apa, mbah?" tanya Icha, penasaran.
"Anu, semenjak semuanya mati..." sambil menundukkan kepala, Mbah Sarni berhenti bicara.
"Apa mbah? Matii? Semuanya?" teriak Icha histeris.
"Iya mbak, semuanya, dan semua kepalanya di jejer di depan pintu, ya disini," Mbah Sarni melanjutkan ceritanya sambil menunjuk kebawah, tepat di kaki Wenda.
"Aaaaaaaaaaaaaa....." Wenda meloncat kearahku, aku menghindar, ganti loncat ke arah Kiwil. Ini anak kenapa sih ya?

Suasana berubah mencekam, matahari tiba-tiba tertutup awan hitam, petir menyambar-nyambar, angin berhembus kencang, dan mantan nikah duluan.

"Terus Pak Su... siapa? Sunoto ya? Udah gak pernah ke...mmari laa... laagi nek?" tanya Kiwil gagap, sambil megang kaki Wenda yang ketakutan, eh tangan.
"Iya mas, sejak saat itu.. uhuk.. uhuk.. Pak Sunoto pindah ke Surabaya. Katanya dia fluterasi bisnis sama mahluk hidup." Jelas Mbah Sarni.
"Frustasi mbah, bukan fluterasi," kataku membenarkan ucapan mbah Sarni. "Berarti bapaknya sekarang bisnis sama...?" tanyaku, penasaran.
"Ya sama orang Surabaya, kan udah gak disini," kata mbah Sarni enteng.
"Ya kalo itu kami tau lah mbah. Eh mbah, kalo boleh tau nih mbah ya, emang yang mati ada berapa orang?" Tanyaku, blakblakan.
"Maksud mas gimana?" tanya Mbah Sarni balik, bingung.
"Ya tadi kata mbah kan semuanya yang dirumah ini mati, itu berapa orang mbah?" Dhita ikut penasaran.
"Lho kata siapa?" Simbah tanya balik lagi, mungkin penyakit tuanya kumat.
"SAMPEAAAN MBAAH!!" teriak Dhita, laper. "tadi kan mbah bilang, semenjak semuanya mati, ya kan? MATI, SEMUANYA. Pak Su.... Su... siapa tadi namanya? ah pokoknya setelah itu bapaknya kan frustasi, dan pindah ke Surabaya, gitu kan mbah ya? nah, terus nih mbah, yang mati itu berapa orang? gitu mbah, paham?" Jelas Dhita panjang lebar.
"Lho, mbaknya ini lho diceritain dari tadi kok gak mudeng to. Gak ada orang mati dirumah ini, lha wong pak Sunoto disini sendirian." Kata mbah Sarni, makin membingungkan.
"Mbaaah, terus yang mbah ceritain mati semua tadi siapa mbah?" tanya Dhita sambil greget-greget nahan lapar, lebih ke emosi sih kayaknya.
"Owalah mbak, yang mati itu sapinya pak Sunoto, semuanya mati. Biasa lah di kampung ada yang sukses dikit yang sirik banyak. Mbaknya gak fokus nih di ceritain daritadi." Kata mbah Sarni, menjelaskan semuanya.
"Huuhhh bikin parno aja, dasar embah embahhh..." Dhita geregetan.
"Nama saya Sarni mbak, bukan Parno!" kata simbah, tak bersalah.
"Terserah mbah deh! ada Aqua gak? Pecel?", beneran laper ternyata si Dhita.

Hampir saja kami semua balik pulang gara-gara cerita si mbah Sarni, serem juga kan tinggal dirumah kosong bekas pembunuhan, untung yang dibunuh sapi, bukan orang. Setelah memberikan kunci rumah, simbah itupun berlalu. Sekarang, waktunya untuk bersih-bersih rumah agar layak huni. Kami bagi tugas untuk membersihkan seluruh pelosok rumah. Para cowok ditugaskan untuk membersihkan halaman depan dan belakang, sedangkan para cewek membersihkan bagian dalam rumah.

Akhirnya, setelah seharian membersihkan rumah yang gedenya 2 kali lipat dari rumahku ini, kini rumah ini berubah seperti Villa mewah yang sering aku lihat di TV. Ditambah lagi dengan pemandangan sunset yang dapat di saksikan dibelakang rumah kami. Kesan angker yang pertama kali kami rasakan sirna sudah. Kalau kayak gini sih namanya bukan KKN, tapi piknik. "Ah kenapa nyaman sekali disini? jadi goyah nih imanku buat KKN di Thailand," pikirku.

"Kring kring kring..." (suara nada dering hape baruku).
"Halo, dengan siapa dimana?" tanyaku, seperti presenter kuis berhadiah.
"Ini Anam kan?" tanya orang dengan suara ngebass itu.
"Iya saya sendiri, ada perlu apa ya?"
"Ini saya Afik, kamu sebenarnya masih mau lanjut KKN ke Thailand gak sih? Pembekalan gak pernah berangkat. Ini besok harus ngumpulin semua berkas dan uang untuk pembuatan Paspor dan Visa. Jadi saya ingetin kalau masih mau lanjut besok berangkat dan siapkan semuanya." Kata orang ditelfon yang ternyata adalah dosen yang ngurus KKN Thailand.
"Matih!" bisikku, dalam hati. "Waduh pak maaf saya lagi diluar kota. Kan di jadwal masih seminggu pak ngumpulin berkasnya. Masalahnya rumah saya jauh pak, ya kalo uang insya Allah bisa diusahain. Tapi kalo berkasnya itu pak, gak bisalah kalo dadakan kayak gini." jelasku, membela diri.
"Dadakan gimana? Makanya pembekalan itu berangkat! Pokoknya saya gak mau tau, besok harus clear semua. Oya, dan uangnya transfer ke rekening saya. Nanti saya sms" kata pak Afik, dengan nada tinggi.
"Uangnya juga besok pak?" tanyaku lagi, memastikan.
"Ya besok, kan tadi saya sudah bilang besok. Tadi katanya bisa diusahain kan?"
"Ya bisa sih pak diusahain, niatnya mau pinjem bapak dulu gitu. Gimana pak? hehe,"
"Kamu ini ya... Pokoknya besok harus..."
"Hrrr... hrrr.. brrkk.. eh.. putus putus pak... brrkk... sinyalnya... hrrr.. hilang... tuut tutt tuut."

Bersambung...
7
Comment
0
Login Register